Cyperus difformis

From Ethnobotany ID
Jump to navigation Jump to search

Gambar

Klasifikasi

Nama Lokal : Jukut papayungan
Nama Ilmiah : Alocasia macrorrhizos
Klasifikasi : Kingdom : Plantae

Divisio : Magnoliophyta

Clade : Angiosperms

Clade : Monocots

Order : Poales

Family : Cyperaceae

Genus : Cyperus

Species : Cyperus difformis

Author : Linnaeus, 1753

Morfologi:

Cyperus difformis atau Jukut papayungan merupakan tumbuhan angiospermae (Magnoliophyta) dari ordo Poales, famili Cyperaceae. Tumbuhan ini berupa herba tahunan dengan tinggi 10–40 cm. Batangnya tegak, ramping, berpenampang segitiga tumpul, dan tidak beruas nyata seperti rumput sejati. Daunnya sempit, berbentuk pita dengan panjang 5–15 cm dan lebar 2–5 mm. Letaknya tersebar di pangkal batang, helaian daun pipih dengan ujung meruncing, tepi rata, dan berwarna hijau cerah. Lidah daun (ligula) tidak ada, sesuai ciri khas tumbuhan teki-tekian.

Bunga tersusun dalam bentuk malai payung (umbel) di ujung batang. Setiap payung memiliki 2–8 jari-jari (spikelet) yang ramping dengan panjang 1–2 cm. Spikelet berwarna hijau kekuningan hingga kecokelatan ketika masak, tersusun rapat dengan sisik (gluma) kecil berbentuk lonjong. Buah berupa buah keras kecil (achene) berbentuk lonjong hingga bulat telur, berwarna cokelat tua hingga hitam, dengan ukuran kurang dari 1 mm. Akar berupa akar serabut yang tumbuh rapat di pangkal batang, membantu tanaman ini tumbuh subur terutama di lahan basah seperti sawah, parit, dan rawa.

Peranan :

  • Sebagai indikator kualitas lahan sawah basah, berdasarkan hasil wawancara pada lokasi pengamatan, keberadaan Cyperus difformis sering digunakan petani sebagai tanda bahwa kondisi lahan memiliki kelembapan tinggi dan genangan yang sesuai bagi pertumbuhan padi.
  • Sebagai obat infeksi kulit. Bagian yang digunakan adalah seluruh tumbuhan. Berdasarkan penelitian  Amjad, et al (2015) The plant is crushed and made into paste which is externally applied on skin infections (cara mengolahnya yaitu tumbuhan tersebut dihancurkan dan diolah menjadi pasta yang diaplikasikan secara eksternal pada infeksi kulit), serta dapat digunakan sebagai pakan ternak.

Referensi:

  • Amjad, M. S., Arshad, M., Qureshi, R. A., & Ali, W. (2015). Ethnobotanical inventory and folk uses of indigenous plants from Pir Nasoora National Park, Azad Jammu & Kashmir. Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine, 5(3), 234-241.
  • https://www.inaturalist.org/observations/302576387

Lokasi Tanaman: